karena allah

By gunawan96

Sering saya introspeksi pada kegiatan seharian yang sudah saya jalani. Ada kalanya terjadi hal-hal yang tidak memuaskan dihati bahkan cenderung menjadi sebuah pertanyaan teka-teki yang tidak pernah dapat terjawab. Memang itu sebuah hal kecil dan tidak seberapa bobotnya dibanding hal positip yang sudah dilakukan seharian. Namun tetap saja menjadi rambu-rambu peringatan agar hari berikutnya menjadi lebih baik , dan kalau bisa mendekati sempurna …ups…saya sadar kesempurnaan hanya milik Allah, saya hanya manusia biasa ( seperti kata raja dalam lagunya ) yang tak lepas dari khilaf dan kesalahan.

 

Sering mengganjal dalam hati saya jika ada orang lain mengatakan saya salah menurut mereka , walaupun menurut saya sendiri benar…..( lalu kapan dong orang akan menurut saya ..? ) seperti ketika saya menjewer Dede karena memegang ( mengacak ) susu ( maaf ) Isnawati teman sekelasnya ( tahun 96 silam ). Semua mengatakan saya salah.  Pada hal menurut saya , menjewer tersebut untuk mendidik demi kebaikannya dan memberi efek jera agar tidak mengulanginya lagi , juga agar tidak ditiru oleh teman-temannya. Anehnya orang menyalahkan saya yang menjewer tetapi tidak menyalahkan Dede yang memegang susu temannya, ada apa ini …, apakah sekarang ada pergeseran nilai moral dan boleh melakukan pembenaran terhadap apapun yang terjadi pada anak didik …

Begitu juga ketika saya tidak memberikan hukuman kepada siswa yang memecahkan kaca mobil yang parker didepan sekolah. Saya yakin anak tidak melempar batu ke arah mobil tetapi pantulan batu yang dilemparkan tidak disengaja mengenai kaca mobil. Tindakan saya hanya menyuruh siswa tersebut membayar biaya penggantian kaca mobil kepada pemilik mobil dan meminta maaf. Anehnya lagi-lagi saya yang dianggap salah oleh pemilik mobil karena tidak memberikan hukuman. Lalu kapan saya dianggap benar? …sesudah ubanankah ? Mengapa? Mengapa dan mengapa itulah yang selalu menjadi pertanyaan untuk mencari dalih pembenaran . Saya tahu alasan hanya tuntutan hati ( kata Joni Iskandar dalam lagu aku bukan pengemis cinta ).

 

Setelah saya membaca tulisan Pak Ersis “ Ikhlas Berbagi Ikhlas Menerima “ saya menjadi sadar bahwa semua itu memang harus terjadi pada saya karena Allah yang menghendaki. Terlepas dari saya benar atau salah, benar dalam hal apa salah dalam hal yang mana , itu tidaklah penting. Yang pasti jika Allah menghendaki maka jadilah.

 

Menjalar pada peristiwa lain yang dulu menjadi sebuah teka-teki yang sempat membuat saya depresi. Saya ini guru yang aktif menurut saya, karena mengajar dikelas pagi-sore ( kelas 3,4,5 parallel dan gedungnya tidak cukup di SDN sungai besar 7). KKG aktif , anggota Tim pembuat soal semester , pra US dan US sejak 1998. Sering ikut penataran bahkan pernah penataran di PPPG IPS PMP Malang tahun 97 dan saya berijazah sarjana . E… kok saya dipindahkan ke SDN Bangkal 1 yang letaknya di ujung Banjarbaru . Sedang teman saya yang sudah tua, ijazah SGB / SPG, tidak pernah penataran, tidak pernah terlibat di forum kedinasan kecuali anggota koperasi bagian ngebon ( maaf ) malah tugasnya dikota.

Timbul pertanyaan dalam benak saya “ apa salah saya sehingga saya dipindahkan ke tempat yang jauh tidak seperti teman-teman saya , di kota ?”

Lama sekali saya depresi karena hal ini. Sampai-sampai teman saya ( pak Joko SDSB 4 ) menyuruh saya membuat tulisan daftar hal baik dan hal yang salah yang pernah saya perbuat…( Dasar sableng lu..pak Joko…) untuk mencari letak kesalahan saya. Tetap saja saya tidak menemukan hal yang memberatkan yang cukup untuk menjadi alasan pemindahan saya.

Sampai detik kemaren ketika penutupan Diklat Pemandu dan Asisten IPA saya mendapat jawaban dari nebeng membaca tulisan pak Ersis di Bandjarbaroe Pos ( pak Ersis bagi-bagi koran tapi aku gak kebagian…kurang pak ) ” Ikhlas Berbagi ikhlas menerima”

( maaf baru baca judulnya doang ). Tetapi dari satu kalimat itu cukup menggugah hati dan pikiran saya untuk menerima dan menjalani tugas saya di SDN Bangkal 1 dengan ikhlas. Entah sampai kapan ( Jangan kelamaan ya.. kasihan deh gue ..jauh mendatangi ).

 

Aneh bin ajaib, begitu niat itu terucap dalam batin saya ( Ikhlas menjalani ikhlas menerima ), banyak perubahan yang saya alami. Ulang tahun saya 2 April lalu dirayakan oleh anak-anak kelas V dan VI dengan dana mereka sendiri tanpa ada yang menyuruh ( Aku sendiri udah lupa ama tanggal lahirku…). Aku jadi punya semangat ( dulu seperti empoten ). Aku tidak minder lagi menghadapi teman-temanku yang dulu pernah satu sekolah. Aku jadi enak tidur enak makan ( Cuma yang dimakan kadang tidak enak , bayar sendiri sih ). Aku menyadari sepenuhnya semua karena Allah, semua kehendak Allah, semua milik Allah. Semua titah ( yang terjadi ) didunia ini kehendak Allah. Saya hanya menjalani . Semua karena Allah.

( Saya  benar  kan ?!…)

 

 

 

2 Tanggapan ke “karena allah”

  1. latifah04 Berkata:

    Wah, saya ikut terharu dengan apa yang dialami pak Gun. Saya yakin pak Gun dimutasi ke SDN bangkal 1 bukan hukuman karena suatu kesalahan, namun itu merupakan amanah yang diberikan kepada bapak karena prestasi dan keaktifan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sekarang pa Gun sedang menyemai bibit-bibit unggul, dan Isya Allah sebentar lagi akan menuai hasil yang sangat baik ini merupakan hasil kerja keras, kesabaran dan keikhlasan. Biarkan orang lain selalu menyalahkan kita, namun Allah tidak pernah tidur. Semua akan dibalas sesuai dengan amal baik kita. Optimis itu lebih baik, jangan buruk sangka itu dapat merusak hati kita.

  2. gunawan96 Berkata:

    Terima kasih atas komentarnya. Semoga saya diberikan kekuatan lebih agar mampu menjalani amanah ini, amin.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.